Dalam Pandangan Islam, Seperti Inilah Tanda-tanda Haid yang Sudah Bersih

0 Comments

Jangan Sepelekan! Sering Dikira Normal, Ini 5 Macam Gangguan Haid

Haid atau menstruasi adalah sebuah siklus rutin yang dialami oleh kaum wanita selama periode tertentupada setia bulannya. Dalam masa haid, maka seorang wanita Muslimah tidak dibolehkan melaksanakan berbagai ibadah wajib, seperti shalat dan puasa di bulan Ramadhan. 

Akan tetapi, apabila masa haidnya sudah selesai, maka kewajiban ibadah tadi harus dikerjakan kembali. Untuk bisa kembali menjalankan ibadah wajib, tentunya kita harus bersuci terlebih dahulu dengan mandi wajib atau tayamum, segera setelah haid selesai. Seorang wanita Muslimah bisa mengenali masa sucinya dengan mengetahui salah satu dari dua tanda tanda haid seperti:

  • Keluarnya cairan bening ataupun kecoklatan, atau keringnya vagina.
  • Pengetahuannya sendiri mengenai siklus haid yang biasa dialaminya, mengenali tabiat darah haid, kapan awal mula keluarnya, dan kapan berakhirnya. 

Pada kita shahih, Imam Bukhari membuat satu bab khusus seputar perihal menstruasi dengan judul “Iqbal Al-Mahiah wa ldbarihi” (Bab tentang datang dan berhentinya haid). Pada baba tersebut beliau membawakan atsar. bahwa dulu para wanita menemui Aisyah RA dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada shufrah (cairan kekuningan), kemudian Aisyah berkata: “Jangan kalian terburu-buru, sampai kalian melihat al-Qasshah al-Baidha”. 

Bukhari mengatakan “Maksud AIsyah adalah (jangan terburu-buru merasa telah) suci dari haid (Shahih Bukkhari 1:71). Terdapat juga beberapa pendapat ulama seputar makna al_Qasshah al-Baidha pada keterangan Aisyah RA tadi. 

Pendapat Pertama

Al-Qasshah al-Baidha merupakan kapas yang masih utuh berwarna putih, sebagaimana serpihan batu bata putih. Sehingga, maksud dari perkataan Aisyah RA adalah jangan kamu terburu-buru menganggap sudah suci hingga kamu melihat japas yang dimasukkan ke farji itu bersih (tetap putih) tidak ada bekas dasarhnya dengan beragam macam warnanya, termasuk sufrah. Penafsiran tersebut diberikan Ibnu Rajab dan beberapa ulama lainnya. 

Pendapat Kedua

AL-Qasshah al-Baidha merupakan cairan putih yang keluar sebagai tanda berhentinya haid. Tafsir yang kedua ini adalah tafsir dari Imam Malik, az-Zaila’i, dan beberpa ulama lainnya. Dengan kata lain, maksud Aisyah yakni bahwasannya tanda sucinya haid itu dengan keluarnya cairan putih. (Mausu’ah Kuwaitiyah 2:12197 d Shahih al-Bukhari Ibn Rajab 2:126).  

Untuk wanita Muslimah yang memiliki beiasaan mengalami keputihan  pasca haid, maka berhentinya haid itu ditandai dengan adanya cairan tersebut. Sedangkan bagi mereka yang tidak mengalami keputihan pasca haid, maka indicator berhentinya haid adalah tidak adanya lagi cairan yang keluar dari vagina. Sehingga saat dibersihkan dengan kapas, maka kapas itu masih putih seperti semula (Fatwa Islam no. 5595). 

Keterangan tersebut juga diperkuat oleh pendapat beberapa ulama, yang salah satunya Siekh Ibnu Baaz berkata: “Yang dimaksud dengan masa suci adalah hilangnya bekas darah, jika seorang wanita mmbersihkan daerah kewanitaannya dengan kapas atau semacamnya sudah tidak menemukan bekas darah maka segera mandi, meskipun ia tidak melihat “Qashshah Baidha (cairan bening yang ditunggu-tunggu oleh sebagian wanita pada akhir masa haidnya)”.

“Jika ia mendapati cairan bening maka menjadi pertanda kalau masa haidnya sudah berakhir, sebagian wanita lainnya tidak mendapatkan hal itu, maka yang menjadi ukuran adalah bersihnya daerah kewanitaan, jika dia telah membersihkannya dengan kapas atau yang semacamnya dan ternyata sudah bersih, tidak ada flek kecoklatan atau kekuningan yang tersisa, maka segera mandi besar, meskipun ia tidak melihat cairan bening”. (Fatawa Nuur ‘Ala Darb: 5/411). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *